Allah menciptakan
sifat marah dari api dan menyelipkannya ke dalam batin manusia. Ketika manusia
dihalang-halangi, api kemarahannya akan menyala dan bergolak dengan sangat
panas bagaikan air mendidih, meruntuhkan kekokohan hati, menyebar ke segenap
sendi dan naik ke bagian tubuh paling atas (ubun-ubun), seperti naiknya suhu
api atau bergejolaknya air yang mendidih. Karena itu, sifat marah dapat membuat
warna kulit memerah. Ketika seseorang marah pada orang lain yang tingkatannya
berada dibawahnya dan ia merasa mampu untuk mengalahkannya, maka wajahnya akan
memerah.
Ketika ia marah pada orang yang posisinya lebih tinggi darinya dan ia merasa takut dan putus asa jika menghadapinya, maka darah yang mengalir dari kulit ke jantung akan menyusut sehingga ia menjadi sedih dan wajahnya akan menguning. Jika ia marah pada orang yang posisinya sederajat, maka frekwensi aliran darah akan berubah-ubah, terkadang menyusut dan terkadang mengalir deras sehingga wajahnya pun terkadang tampak memerah dan terkadang menguning, hingga akhirnya menimbulkan keraguan. Ringkasnya, tempat marah adalah hati. Artinya, mendidihnya darah yang ada dalam hati karena dipicu oleh keinginan balas dendam (yang terkadang tidak terlaksana).
Ketika ia marah pada orang yang posisinya lebih tinggi darinya dan ia merasa takut dan putus asa jika menghadapinya, maka darah yang mengalir dari kulit ke jantung akan menyusut sehingga ia menjadi sedih dan wajahnya akan menguning. Jika ia marah pada orang yang posisinya sederajat, maka frekwensi aliran darah akan berubah-ubah, terkadang menyusut dan terkadang mengalir deras sehingga wajahnya pun terkadang tampak memerah dan terkadang menguning, hingga akhirnya menimbulkan keraguan. Ringkasnya, tempat marah adalah hati. Artinya, mendidihnya darah yang ada dalam hati karena dipicu oleh keinginan balas dendam (yang terkadang tidak terlaksana).
Ada tiga tingkatan
manusia yang berkaitan dengan sifat pemarah:
·
Pertama, manusia yang tafrith (serba
kekurangan), yaitu manusi yang kehilangan potensi amarah dan emosinya sama
sekali (sehingga tidak dapat marah). Manusia semacam ini tercela, dan inilah
yang dimaksud dalam ungkapan Imam Syafi’i, ”Barangsiapa yang sengaja dibuat
marah, namun tidak marah, maka ia adalah keledai.”
·
Kedua, manusia yang memiliki emosi
seimbang, tidak terlalu lemah dan tidak terlalu ekstrim amarahnya. Sifat
seperti inilah yang disematkan Allah kepada para sahabat, sebagaimana tersirat
dalam firman-NYA,” Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih
sayang sesama mereka.” (QS. Al Fath 48:29)
·
Ketiga, manusia yang ifrath (serba
berlebihan), yaitu manusia yang amarahnya melampaui batas sehingga keluar dari
kendali akal dan agama. Orang semacam ini tidak dapat berfikir jernih, bahkan
terkesan ia speperti orang terpaksa. Kondisi seperti ini tercela. Kita melihat
kondisi dzahirnya tampak berubah menjadi buruk, begitu pula dengan kondisi
batinnya, lebih buruk lagi.
Sekali waktu Aisyah
pernah marah. Lalu Rasulullah bertanya padanya, ”Setanmu telah merasukimu? ”
Aisyah balik bertanya, ”Apakah engkau juga punya setan, ya Rasulullah? ” Beliau
menjawab, ”Ya, saya juga. Namun saya senantiasa berdoa kepada Allah dan Ia
menolongku sehingga akupun selamat dan tidak memerintah kecuali hanya kebaikan.
” Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah marah dalam urusan dunia. Jika
ia marah oleh kebenaran (yang dilecehkan), maka tak seorangpun mengenalinya dan
berani berdiri karena amarahnya hingga ia memperoleh pertolongan dari Allah.
Sifat pemarah, meskipun sulit untuk dihilangkan secara total, namun bisa diminimalisir dan diperangi, terutama jika tidak berkaitan dengan kebutuhan pokok dalam hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakui kehinaan dan kerendahan jiwanya. Ia juga harus tahu bahwa tidak pantas bagi jiwanya merasa tinggi hati dengan kerendahan dan kehinaan yang dimilikinya.
Mengatasi Amarah dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:
Sifat pemarah, meskipun sulit untuk dihilangkan secara total, namun bisa diminimalisir dan diperangi, terutama jika tidak berkaitan dengan kebutuhan pokok dalam hidup. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakui kehinaan dan kerendahan jiwanya. Ia juga harus tahu bahwa tidak pantas bagi jiwanya merasa tinggi hati dengan kerendahan dan kehinaan yang dimilikinya.
Mengatasi Amarah dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya:
·
Dengan mengenali pahala yang akan
ditimpakan Allah kepadanya.
·
Menakut-nakuti dirinya dengan balasan
yang akan ditimpakan Allah kepadanya.
·
Mengakui bahwa Allah lebih berkuasa
terhadap orang lain ketimbang dirinya.
·
Memperingatkan dirinya akan dampak dari
balas dendam yang dilakukan oleh orang yang dimusuhinya karena merasa tersakiti
sehingga akhirnya menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
·
Membayangkan betapa buruknya penampilan
orang lain saat marah, lalu bandingkan dengan dirinya.
·
Memberitahukan kepada dirinya sendiri
bahwa ia menyerupai binatang buas yang berbahaya jika sedang marah, namun jika
ia berlaku bijak, ia ibarat para nabi dan wali.
Jika kita sudah
mengetahui semua hal ini, maka ketika marah, ucapkanlah : Aku berlindung kepada
Allah dari godaan setan yang terkutuk, sebagaimana yang diperintahkan oleh
Rasulullah. Ketika Aisyah marah, Rasulullah langsung memegang hidungya dan
berkata, ”Wahai Uwaisy, bacalah: ” Ya Allah, Rabb Muhammad, sang Nabi,
ampunilah dosaku, hilangkanlah amarah hatiku, lindungi aku dari sesatnya.”
Bacalah doa ini dan duduklah jika pada saat marah engkau dalam kondisi berdiri,
dan berbaringlah jika pada saat marah engkau dalam kondisi duduk.
Rasulullah bersabda, ”Marah adalah (laksana) batu yang dinyalakan dalam hati. Tidakkah kalian melihat menggelembungkan urat leher dan memerahnya kedua mata orang yang sedang marah? Jika salah satu dari kalian mengalami kondisi seperti itu, maka jika sedang berdiri, duduklah dan jika sedang duduk berbaringlah. Jika amarah itu belum hilang juga, maka berwudhulah dengan air dingin dan mandilah karena api tidak dapat dipadamkan kecuali dengan air.
Taman Bougenvile, Jatibening, Bekasi, 02 Juni 2009
Disadur dari Ihya' 'Ulumuddin – Imam Ghazali
oleh m.anwar.sa
Rasulullah bersabda, ”Marah adalah (laksana) batu yang dinyalakan dalam hati. Tidakkah kalian melihat menggelembungkan urat leher dan memerahnya kedua mata orang yang sedang marah? Jika salah satu dari kalian mengalami kondisi seperti itu, maka jika sedang berdiri, duduklah dan jika sedang duduk berbaringlah. Jika amarah itu belum hilang juga, maka berwudhulah dengan air dingin dan mandilah karena api tidak dapat dipadamkan kecuali dengan air.
Taman Bougenvile, Jatibening, Bekasi, 02 Juni 2009
Disadur dari Ihya' 'Ulumuddin – Imam Ghazali
oleh m.anwar.sa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar